post

Turki Resesi, Bagaimana Nasib “Fragile Five” Lainnya?

Turki Resesi – Pekan lalu Turki resmi masuk dalam kategori negara yang sedang mengalami resesi ekonomi. Penandanya terjadi kontraksi atau kondisi negatif pada perekonomian negara tersebut selama dua kuartal berturut-turut.

Pada kuartal II-2019 ekonomi Turki terkontraksi 1,5%. Dimana pada kuartal sebelumnya kontraksi ekonomi Turki tercatat sebesar 2,4%.

Kondisi perekonomian yang negatif ini disebabkan karena data perekonomian Turki yang kurang meyakinkan. Pada Juli 2019 yang lalu inflasi di negara ini mencapai 16,55% year on year (YoY). Naik dari bulan sebelumnya yang sebesar 15.72%.

Lalu, Purchasing Managers’ Index (PMi) manufaktur pada Agutus lalu juga sebesar 48. Sejak April lalu memang angka ini tak pernah mencapai 50,yang berarti dunia usaha masih enggan melakukan ekspansi.

Turki Resesi, Negara Berkembang Lainya Juga Terguncang

Kondisi resesi Turki ini membuat negara-negara berkembang lainnya menjadi was-was, terutama lima negara yang pada 2013 lali dikategorikan sebagai negara The Fragile Five. Negara tersebut adalah Turki, India, Brasil, Afrika Selatan dan Indonesia.

Istilah The Fragile Five diperkenalkan oleh Morgan Stanley. Pengertian The Fragile Five adalah emerging markets dengan potensi ekonomi yang luar biasa. Namun pada saat yang sama, mereka sangat rentan ‘digoyang’.

Kelimanya disebatkan istilah ini karena dinilai rentan karena punya fundamental yang relatif rapuh. Fundamental itu diukur dari keseimbangan eksternal yaitu neraca pembayaran.

Perlu diketahui, muncul kembali istilah ini setelah Turki sudah resmi memasuki masa resesi. Kemudian negara-negara seperti Indonesia, India, Brasil, dan Afrika Selatan pun mengalami perlambatan ekonomi.

Pada kuartal II 2019, India membukukan pertumbuhan ekonomi 5% year-on-year (YoY). Melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yaitu 5,8%. Posisi ini menjadi kondisi terlemah sejak kuartal pertama 2013.

Dari Afrika Selatan, pertumbuhan ekonominya mencapai 0,9% YoY pada kuartal II-2019. Membaik dibandingkan kuartal sebelumnya yang stagnan.

Negara-negara ini bergantung pada arus modal di sektor keuangan alias hot money yang sangat Fluktuatif. Disebabkan karena transaksi berjalan (current account) yang masih defisit. Artinya, pasokan valas yang berjangka panjang dari ekspor-impor barang dan jasa seret.

Dari segi nilai tukar, Rupiah sejak awal tahun hingga kemarin menguat 1,56%. Sedangkan rupee melemah 3,46%, real minus 5,52%, lira terdepresiasi 7,15%, dan rand melemah 3,09%.

Tekanan terhadap mata uang negara-negara The Fragile Five terjadi ketika pasar keuangan global berguncang. Misalnya ketika periode Taper Tantrum pada 2013, masa-masa kegalauan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve/The Fed yang membuat kesal seluruh dunia.

Selepas krisis keuangan 2007-2008, The Fed mulai berpikir bahwa perekonomian Negeri Paman Sam mulai pulih. Dilemparlah wacana dimulainya proses pengetatan kebijakan moneter, yaitu dengan menaikkan suku bunga acuan yang kala itu sudah mendekati 0%.

Ternyata masa kegalauan itu berlangsung selama nyaris tiga tahun, karena Federal Funds Rate baru dinaikkan pada Desember 2015. Selama 2013 sampai akhir 2015, The Fed maju-mundur dan melempar berbagai sinyal yang membuat pelaku pasar bingung bukan main.

Selama masa kebingungan itu, investor memburu dolar AS dengan harapan The Fed segera menaikkan suku bunga acuan. Arus modal terkonsentrasi di mata uang Negeri Adidaya, negara lain hanya kebagian remah rengginang.

Nah, karena The Fragile Five itu sangat tergantung kepada arus modal di pasar keuangan, mata uang mereka melemah sangat dalam. Mau bagaimana lagi, dari rupee India hingga rand Afrika Selatan memang kekurangan ‘darah’ karena devisa dari transaksi berjalan tidak bisa diharapkan.

Pada 2013, rupee anjlok 12,38% di hadapan dolar AS. Sementara lira Turki terdepresiasi 20,39%, real Brasil amblas 15,35%, rand Afrika Selatan ambrol 23,61%, dan rupiah melemah 26,27%.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *